PEMBAHASAN VI
BERFIKIR
A. Pengertian
Berpikir
menurut Folyd L.Ruch, Berpikir merupakan menipulasi atau organisasi
unsur-unsur lingkungan dengan menggunakan lambang-lambang sebelum melakukan
kegiatan yang tampak, ,(psychology and life 1967)
Menurut Anita Taylor et al, mendefinisikan bepikir merupakan
suatu proses penarikan kesimpulan. Thinking is a inferring processberpikir
Dalam kita
melibatkan semua proses yang kita sebut : sensasi, presepsi dan memori
Secara besar, ada
dua macam berpikir: berpikir autistik
atau berpikir realistik (Rahmat, 1994: 69). Yang pertama mungkin lebih
tepat disebut melamun. Contoh berpikir autistik antara lain mengkhayal,
fantasi, atau wishful thingking. Dengan berpikir autistik, seseorang
melarikan diri dari kenyataan, dan melihat hidup sebagai gambar – gambar
fantastik. Adapun berpikir realistik atau sering pula disebut reasoning (nalar),
adalah berpikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata. Floyd L.
Ruch (1967), seperti dikutip Rakhmat (1994 : 69), menyebut tiga macam berpikir
realistik: dedukatif, induktif, evaluatif.
a. Berpikir Deduktif
Deduktif
merupakan sifat deduksi. Kata dedukdi berasal dari kata Latin deducere
(de berarti “dari”, dan kata ducere berarti “mengantar”,
memimpin”). Dengan demikian, kata deduksi yang diturunkan dari kata itu
berarti “mengantar dari suatu hal ke hal lain”. Sebagai suatu istilah dalam
penalaran, deduksi merupakan proses berpikir (penalaran) yang bertolak dari
proposisi yang sudah ada, menuju proposisi baru yang berbentuk suatu kesimpulan
(Keraf, 1994:57).
Reasoning
yang deduktif berasal atau bersumber
dari pandangan umum (general conclusion) waktu itu, bahwa matahari
adalah suatu “heavenly body” yang tidak mungkin ada cirinya.
Meskipun
cara ini kurang sempurna, tetap bermanfaat kalau deduksi ini didasarkan pada
suatu perumusan yang betul. Dasar dari pelajaran ilmu pasti dan alam adalah
demikian pula halnya. Dari suatu rumus umum, dapat ditarik berbagai kesimpulan.
Mereka berpikir ini dapat juga disebut berpikir analisis (analisis thingking).
Dilihat
dari prosesnya, berpikir deduktif berlangsung dari yang umum menuju yang
khusus. Dalam cara berpikir ini, orang bertolak dari suatu teori, prinsip, atau
kesimpulan yang dianggapnya benar dan sudah bersifat umum. Dari situ, ia
menerapkannya pada fenomena – fenomena yang khusus, dan mengambil kesimpulan
khusus yang berlaku bagi fenomena tersebut. Jadi, untuk lebih jelasnya,
berpikir deduktif adalah mengambil kesimpulan dari dua pertanyaan: yang pertama
merupakan pertanyaaan umum. Dalam logika, ini disebut silogisme.
Contoh
klasik yang biasa digunakan sebagai pejelasan adalah seperti contoh berikut:
Semua manusia akan mati (Kesimpulan
umum)
Socrates adalah manusia (Kesimpulan
khusus)
Jadi, Socrates akan mati (Kesimpulan
deduksi)
Selain
contoh di atas, ada pula semacam kesimpulan deduksi yang tidak bisa kita terima
kebenarannya, yang disebut silogisme semu. Contohnya:
Semua manusia bernafas dengan paru –
paru (Premis Mayor)
Kerbau bernafas dengan paru – paru
(Premis Minor)
Jadi, kerbau adalah manusia
(Kesimpulan yang Salah)
Contoh lain:
Semua anggota PKI bukan warga negara
yang baik (premis Mayor)
Si Waru bukan seorang warga negara
yang baik (Premis Minor)
Sebab itu, Si Waru seorang anggota
PKI.
b. Berpikir Induktif
Induktif
artinya bersifat induksi. Induksi adalah proses berpikir yang bertolak
dari satu atau sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu
kesimpulan (inferensi). Proses penalaran ini mulai bergerak dari penelitian dan
evaluasi atas fenomena – fenomena yang ada. Karena semua fenomena harus
diteliti dan dievaluasi terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh ke proses
penalaran induktif, proses penalaran itu juga disebut sebagai corak berpikir
ilmiah. Namun, induksi tidak akan banyak manfaatnya jika tidak diikuti oleh
proses berpikir yang pertama, yaitu deduksi, seperti telah kita bicarakan
sebelumnya.
Berpikir
induktif (induktive thingking) ialaha menarik suatu kesimpulanumum dari
berbagai kejadian (data) yang ada di sekitarnya. Dasarnya adalah observasi.
Proses berpikirnya adalah sintesis. Tingkatan berpikirnya adalah induktif.
Jadi, jelas pemikiran semacam ini mendekatkan manusia pada ilmu pengetahuan.
Pada
hakikatnya, semua pengetahuan yang dimiliki manusia berasal dari proses
pengamatan (Observasi) terdapat data. Rangkuman pengamatan data tersebut
kemudian memberikan pengertian terhadap kejadian berdasarkan reasoning
yang bersifat sintetis (synthesis).
Dalam
ilmu pasti dan alam, metode sintesis merupakan kelanjutan dari metode analisis.
Sumber dari tingkatan berpikir ini berpikir ini berasal dari the philosophy
of thingking”para ilmuwan pada waktu itu, seperti Galileo, Newton, dan
Descartes.
Dalam
ilmu statistik, dikenal istilah inductive statistics. Menaruk satu general
conclusion dari data yang didapatkan dari suatu sampel, yang berlaku untuk
seluruh populasi tempat sampel itu berasal, adalah contoh berpikir induktif.
Istilah lain yang sama maknanya ialah generalizing atau integral
(Effendy, 1981). Istilah lain yang sama maknanya ialah generalizing atau
integral (Effendy, 1981).
Berikut
ini adalah contoh berpikir induktif:
Seorang guru mengadakan eksperimen –
eksperimen menanam biji – bijian bersama murid – muridnya, jagung ditanam,
tumbuh ke atas; kacang tanah ditanam, di sebelah bawah, tumbuhnya ke atas pula;
biji – biji yang lain demikian pula. Kesimpulannya: semua batang
tanaman, tumbuhannya ke atas mencari sinar matahari.
Tepat
atau tidaknya kesimpulan (cara berpikir) yang diambil secara induktif ini
terutama bergantung pada representatif atau tidaknya sampel yang diambil, yang
mewakili fenomena keseluruhan. Makin besar jumlah sampel yang diambil makin
representatif dan makin besar pula taraf validitasnya dari kesimpulan itu masih
ditentukan pula oleh objektivitas dari si pengamat dan homogenitas dari
fenomena – fenomena yang diselidiki (Purwanto, 1998:47 – 48).
c. Berpikir Evaluatif
Berpikir
evaluatif ialah kritis, menilai baik - buruknya, tepatnya atau tidaknya
suatu gagasan. Dalam berpikir evaluatis, kita tidak menambah atau mengurangi
gagasan. Kita menilainya menurut kriteria tertentu (Rakhmat.1994).
Perlu
diingat bahwa jalannya berpikir pada dasarnya ditentukan oleh berbagai macam
fokus. Suatu masalah yang sama, mungkin menimbulkan pemecahan yang berbeda –
beda pula. Adapun faktor –faktor yang memengaruhi jalannya berpikir itu, antara lain, yaitu bagaimana seseorang melihat atau
memahami masalah tersebut, situasi yang tengah dialami seseorang dan situasi
luar yang dihadapi, pengalaman – pengalaman orang tersebut, serta bagaimana
inteligensi orang itu.
B. Tipe-tipe
Berpikir
1. Berpikir
kritis
Istilah berpikir kritis (critical thinking) sering
disamakan artinya dengan berpikir konvergen, berpikir logis (logical
thinking) dan reasoning. R.H Ennis, dalam Hassoubah (2004),
mengungkapkan bahwa berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan
reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus
dipercayai atau dilakukan.
Menurut R. Swartz dan D.N. Perkins dalam Hassoubah (2004:
86) menyatakan bahwa berpikir kritis berarti:
1. Bertujuan untuk mencapai penilaian
yang kritis terhadap apa yang akan diterima atau apa yang akan dilakukan dengan
alasan yang logis.
2. Memakai standar penilaian sebagai
hasil dari berpikir kritis dalam membuat keputusan.
3. Menerapkan berbagai strategi yang
tersusun dan memberikan alasan untuk menentukan serta menerapkan standar
tersebut.
4. Mencari dan menghimpun informasi
yang dapat dipercaya untuk dipakai sebagai bukti yang mendukung suatu
penilaian.
Dalam rangka mengetahui bagaimana mengembangkan berpikir
kritis pada diri seseorang, R.H Ennis dalam Hassoubah (2004: 87) memberikan
sebuah definisi berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif
dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau
dilakukan. Tujuan dari berpikir kritis adalah agar dapat menjauhkan seseorang
dari keputusan yang keliru dan tergesa-gesa sehingga tidak dapat
dipertanggungjawabkan.
Selanjutnya Beyer dalam Hassoubah (2004), menyatakan bahwa
kemampuan berpikir kritis ini meliputi keterampilan untuk menentukan
kredibilitas suatu sumber, membedakan antara yang relevan dan yang tidak
relevan, membedakan fakta dari penilaian, mengidentifikasi dan mengevaluasi
asumsi yang tidak terucapkan, mengidentifikasi bias yang ada, mengidentifikasi
sudut pandang, mengevaluasi bukti yang ditawarkan. Selanjutnya Tyler dalam
Redhana (2003: 13-14) berpendapat bahwa pengalaman atau pembelajaran yang
memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh keterampilan-keterampilan
dalam pemecahan masalah dapat merangsang keterampilan berpikir kritis siswa.
Pertukaran gagasan yang aktif didalam kelompok kecil tidak hanya menarik
perhatian siswa tetapi juga dapat mempromosikan pemikiran kritis. Kerjasama
dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat dalam diskusi, bertanggung
jawab terhadap pelajaran sehingga dengan begitu mereka menjadi pemikir yang
kritis (Totten dalam Gokhale 2002).
Unsur-unsur Dasar Berpikir Kritis
Menurut Ennis (1996: 364) terdapat 6
unsur dasar dalam berpikir kritis yang disingkat menjadi FRISCO :
F
(Focus): Untuk membuat sebuah keputusan tentang apa yang diyakini maka
harus bisa memperjelas pertanyaan atau isu yang tersedia, yang coba diputuskan
itu mengenai apa.
R
(Reason): Mengetahui alasan-alasan yang mendukung atau melawan
putusan-putusan yang dibuat berdasar situasi dan fakta yang relevan.
I
(Inference): Membuat kesimpulan yang beralasan atau menyungguhkan.
Bagian penting dari langkah penyimpulan ini adalah mengidentifikasi asumsi dan
mencari pemecahan, pertimbangan dari interpretasi akan situasi dan bukti.
S
(Situation): Memahami situasi dan selalu menjaga situasi dalam berpikir
akan membantu memperjelas pertanyaan (dalam F) dan mengetahui arti
istilah-istilah kunci, bagian-bagian yang relevan sebagai pendukung.
C
(Clarity): Menjelaskan arti atau istilah-istilah yang digunakan.
O
(Overview): Melangkah kembali dan meneliti secara menyeluruh keputusan
yang diambil.
Untuk menilai kemampuan berpikir kritis Watson dan Glaser
(1980) melakukan pengukuran melalui tes yang mencakup lima buah indikator,
yaitu mengenal asumsi, melakukan inferensi, deduksi, interpretasi, dan
mengevaluasi argumen. Joko Sulianto (2011) mengatakan bahwa kemampuan berpikir
kritis sebagai bagian dari keterampilan berpikir perlu dimiliki oleh setiap
anggota masyarakat, sebab banyak sekali persoalan-persoalan dalam kehidupan
yang harus dikerjakan dan diselesaikan.
1. Berpikir
Reflektif
Berpikir reflektif adalah
kemampuan individu di dalam menyeleksi pengetahuan yang pernah diperolehnya,
yang relevan dengan tujuan pemecahan masalah, serta memanfaatkannya secara
efektif di dalam memecahkan masalahnya.
Apabila seseorang individu
ingin mencapai sesuatu tujuan, ia harus dapat memecahkan masalah-masalah yang
menghambatnya. Apabila individu dapat menemukan cara-cara untuk mengatasi
hambatan yang ada, dan akhirnya dapat mencapai tujuan yang diharapkan, maka
berarti individu sudah melakukan berpikir reflektif.
Di dalam berpikir reflektif
tidak semata-mata tergantung pada pengetahuan yang ada pada masing-masing
individu, karena adanya perbedaan individual, ada yang dapat memanfaatkan
pengetahuannya untuk pemecahan maslah, ada yang tidak dapat.
Langkah-langkah berpikir reflektif:
1. Individu merasakan adanya suatu problem
2. Individu mengerti problemnya dan dapat
menegaskan permasalahannya
3. Mengajukan kemungkinan pemecahannya à hipotesis
4. Mengumpulkan informasi-informasi untuk
dianalisis
5. Mengambil kesimpulan à hipotesis diterima/tidak
6. Mengadakan generalisasi
2. Berpikir
Kreatif
Berusaha mencetuskan
ide-ide/kreasi atau berusaha menimbulkan inspirasi .Dalam berpikir kreatif,
orang berusaha mencetuskan ide-ide/kreasi atau berusaha menimbulkan inspirasi
Berpikir kreatif meliputi 3 tahap :
1. Orientasi: Masalah dirumuskan, dan aspek-aspek
masalah diidentifikasi.
2. Preparasi: Pikiran berusaha mengumpulkan
sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan masalah.
3. Inkubasi: Pikiran beristirahat sebentar, ketika
berbagai pemecahan berhadapan dengan jalan buntu. Pada tahap ini, proses
pemecahan masalah berlangsung terus dalam jiwa bawah sadar kita.
4. Iluminasi: Masa inkubasi berakhir ketika
pemikir memperoleh semacam ilham, serangkaian insight yang memecahkan masalah.
Ini menimbulkan Aha Erlebnis.
5. Verifikasi: Tahap terakhir untuk menguji dan
secara kritis menilai pemecahan masalah yang diajukan pada tahap keempat.
C. Pola Berfikir
Menurut Kartono (1996, dalam Khodijah, 2006:118) ada enam
Pola Berfikir, yaitu:
1.
Berfikir Konkrit, yaitu berfikir dalam dimensi ruang,
waktu, dan tempat tertentu.
2.
Berfikir Abstrak, yaitu berfikir dalam ketidak
berhinggaan, sebab bias dibesarkan atau disempurnakan keluasannya.
3.
Berfikir Klasificatoris, yaitu berfikir mengenai
klasifikasi atau pengaturan menurut kelas-kelas tingkat tertentu.
4.
Berfikir Analogis, yaitu berfikir untuk mencari
hubungan antar peristiwa atas dasar kemiripannya.
5.
Berfikir Ilmiah, yaitu berfikir dalam hubungan yang
luas dengan pengertian yang lebih komplek disertai pembuktian-pembuktian.
6.
Berfikir Pendek,yaitu lawan berfikir ilmiah yang
terjadi secara lebih cepat lebih dangkal dan sering kali tidak logis.
Jalaluddinrakhmat,psikologi komunikasi,Rosadakarya,Bandung 2008